‹ kembali ke daftar#26 / 64
MONEY 30/SEP/2026

Jepang Naikkan Plafon Biaya Kesehatan, Celah Antar Asuransi Melebar

Jepang menaikkan plafon biaya kesehatan yang ditanggung sendiri, dan celah antara pemegang asuransi bertunjangan tambahan dengan yang tanpa makin melebar.

Jepang, Negara yang Sistem Kesehatannya Selalu Dijadikan Contoh

Kalau lo tanya orang soal sistem kesehatan terbaik di dunia, nama Jepang hampir selalu muncul. Negara ini punya cakupan kesehatan universal yang bikin warganya nggak perlu takut bangkrut cuma gara-gara masuk rumah sakit. Tapi ada catatan penting yang sering kelewat: universal bukan berarti seragam.

Ilustrasi suasana layanan kesehatan di Jepang (kredit: japantimes.co.jp)
Ilustrasi suasana layanan kesehatan di Jepang (kredit: japantimes.co.jp)

Ini yang bikin gue ngerasa berita dari Japan Times kali ini penting buat lo yang tinggal di Jepang atau punya rencana pindah ke sana. Soalnya, biaya yang lo tanggung buat perawatan yang sama bisa beda-beda, tergantung lo terdaftar di asuransi yang mana. Dan pemerintah baru saja bikin jurang itu makin lebar.

Kenapa Tagihan Rumah Sakit Nggak Serem-Serem Amat

Jepang punya yang namanya sistem high-cost medical expense benefit. Dalam bahasa gampangnya, ini plafon alias batas maksimal yang harus lo bayar sendiri ketika tagihan rumah sakit membengkak, misalnya buat operasi atau perawatan mahal. Di atas angka itu, asuransi kesehatan publik yang menanggung sisanya.

Masalahnya bukan pada ada atau nggaknya plafon itu. Masalahnya pada seberapa besar plafon yang berlaku buat lo, karena angka itu nggak sama buat semua orang.

Plafon Beda, Tergantung Lo Terdaftar di Mana

Di Jepang, asuransi kesehatan publik punya beberapa jenis. Ada kelompok asuransi kesehatan (health insurance associations), ada Japan Health Insurance Association alias Kyokai Kenpo yang menaungi karyawan perusahaan kecil dan menengah beserta tanggungannya, ada asosiasi bantuan bersama (mutual aid associations) buat pegawai negeri dan sejenisnya, ada program national health insurance yang dijalankan pemerintah kota buat pekerja mandiri dan pengangguran, plus sistem khusus untuk mereka yang berusia 75 tahun ke atas.

Yang penting di sini: kelompok asuransi kesehatan dan asosiasi bantuan bersama boleh menetapkan plafon sendiri yang lebih rendah, lalu mengganti selisih di atasnya. Jadi kalau lo kebetulan terdaftar di sana, beban lo bisa jauh lebih ringan. Kalau tidak, ya lo bayar sesuai plafon dasar.

Angka-Angkanya Bikin Kelihatan Nyata

Ini bagian yang bikin gue agak geleng-geleng. Menurut National Federation of Health Insurance Societies, dari 1.380 kelompok asuransi kesehatan di Jepang, 929 di antaranya menyediakan tunjangan tambahan buat anggota karyawan per akhir tahun fiskal 2023. Sebagian besar membatasi biaya yang ditanggung sendiri maksimal ¥25.000 per bulan.

Bandingkan dengan aturan baru yang mulai berlaku Agustus lalu. Buat pasien dengan penghasilan tahunan ¥7 juta, plafon dasar per bulan sekitar ¥86.000. Kalau pasien itu anggota asosiasi yang punya tunjangan tambahan, beban aslinya cuma dibatasi ¥25.000, sementara kelompoknya menanggung sisanya, sekitar ¥61.000.

Jadi buat perawatan yang sama, satu orang bisa cuma keluar ¥25.000, sementara orang lain yang nggak punya tunjangan menanggung ¥86.000.

Kyokai Kenpo dan Asuransi Kota: Nggak Ada Tunjangan

Yang perlu lo tahu, nggak semua pemegang asuransi bisa menikmati keringanan itu. Kyokai Kenpo dan program national health insurance yang dijalankan pemerintah kota nggak menawarkan tunjangan tambahan semacam itu.

Alasannya jelas dan menurut gue masuk akal: program-program itu sebagian dibiayai dana publik. Seorang pejabat Kementerian Kesehatan (Ministry of Health, Labor and Welfare) bilang, "it would be inappropriate to use taxpayer money to provide benefits unique to a particular group of enrollees" — kurang lebih, nggak pantas pakai uang pajak buat kasih tunjangan yang cuma dinikmati kelompok peserta tertentu.

Pejabat yang sama juga menegaskan, "Extra benefits are introduced at the discretion of each health insurance group, so the ministry is in no position to ask them to adopt or abolish such programs." Artinya, keputusan ada di tangan masing-masing penyelenggara asuransi, dan kementerian nggak punya dasar buat memaksa mereka menambah atau menghapusnya.

Tahun Depan, Celahnya Bakal Makin Lebar

Kalau lo pikir ini sudah jadi jurang, tunggu revisi berikutnya. Sistem ini akan direvisi lagi pada Agustus tahun depan. Buat pasien dengan penghasilan tahunan ¥7 juta, plafon bulanannya naik jadi sekitar ¥110.000. Efeknya, celah antara mereka yang punya tunjangan tambahan dan yang nggak akan melebar sampai sekitar ¥85.000.

Tapi ada kabar baiknya juga. Pejabat tadi menunjukkan adanya batas tahunan yang diperkenalkan dalam revisi Agustus tadi. Buat orang dengan penghasilan ¥7 juta per tahun, total biaya yang ditanggung sendiri dibatasi ¥530.000 selama periode 12 bulan. Plafon tahunan ini membantu menahan beban pasien yang nggak dapat tunjangan tambahan.

Jadi, Apa Artinya Buat Lo

Kalau lo kerja di Jepang, hal pertama yang gue saranin: cek asuransi yang menaungi lo sekarang. Apakah penyelenggaranya termasuk yang menyediakan tunjangan tambahan, atau justru tipenya seperti Kyokai Kenpo dan asuransi kota yang nggak punya? Karena jawabannya bisa bikin selisih puluhan ribu yen dalam setahun.

Kedua, jangan panik dulu soal revisi tahun depan. Adanya plafon tahunan ¥530.000 itu artinya lo punya semacam pengaman, walau lo nggak dapat tunjangan tambahan.

Ketiga, ini pengingat kalau kata "universal" nggak otomatis berarti "adil". Sistemnya memang bikin lo nggak bangkrut, tapi seberapa ringan beban lo tetap tergantung di mana lo terdaftar. Kalau lo berencana pindah kerja atau pindah kota, ini salah satu hal yang layak lo tanyakan sebelum tanda tangan kontrak.

Sebab pada akhirnya, biaya kesehatan bukan cuma soal angka di kuitansi rumah sakit. Itu soal seberapa aman lo secara finansial ketika hal terburuk terjadi.

BACA JUGA