Setelah 35 Tahun, Toys R Us Bakal Tutup Gerai di Jepang
Kabar Pamit dari Rak Mainan
Buat lo yang tumbuh besar dengan nostalgia jalan-jalan ke toko mainan besar, kabar ini bakal bikin sedikit sendu. Toys R Us berencana berhenti mengoperasikan tokonya di Jepang, menurut orang-orang yang tahu soal rencana ini. Kabar tersebut beredar pada Rabu.
Rencananya begitu, bukan sekadar satu-dua toko yang tutup. Toys R Us-Japan yang berbasis di Kawasaki saat ini menjalankan total sekitar 150 toko mainan Toys R Us plus toko barang bayi Babies R Us di seluruh negeri. Jadi ini soal skala nasional.

Bakal Diambil Alih Pan Pacific
Operasional di Jepang, termasuk toko-tokonya, diperkirakan bakal diakuisisi oleh Pan Pacific International Holdings. Ini induk dari jaringan toko diskon Don Quijote, yang mungkin lebih akrab di kuping lo sebagai "Donki".
Sampai sekarang, Pan Pacific menolak berkomentar soal rencana tersebut. Jadi statusnya masih sebatas informasi dari pihak yang mengetahui, belum pernyataan resmi dari perusahaan. Buat lo yang nggak sabar nunggu, ini posisi yang butuh sedikit kesabaran.
Perjalanan 35 Tahun
Ingat, ini bukan merek yang baru kemarin nongol. Toko Toys R Us pertama di Jepang dibuka pada 1991. Kalau dihitung dari situ, merek ini sudah menemani keluarga Jepang sekitar 35 tahun.
Menariknya, Toys R Us-Japan tetap jalan di Jepang bahkan setelah induknya di Amerika Serikat, Toys R Us, mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 pada 2017. Jadi saat rantai globalnya goyah, unit Jepang bisa dibilang bertahan lebih lama. Sekarang, setelah bertahan hampir satu dekade lebih, unit itu justru jadi yang hendak menutup pintunya.
Kenapa Bisa Berakhir Begini
Penyebabnya nggak tunggal, dan keduanya sudah lama membayangi bisnis mainan di Jepang. Pertama, tingkat kelahiran Jepang yang terus menurun. Kalau jumlah anak mengecil, pasar mainan fisik otomatis ikut menyusut. Kedua, kebangkitan belanja online. Orang tua sekarang bisa memesan mainan dari sofa, tanpa perlu masuk ke gerai besar.
Toys R Us-Japan sendiri sudah bertahun-tahun merugi karena dua faktor itu. Jadi keputusan mundur dari Jepang bukan kejutan bagi yang mengikuti industri ritel, lebih seperti titik akhir dari tren yang panjang. Kalau lo perhatikan mal-mal di Jepang, gerai mainan besar memang kian terasa sepi dibanding belanjaan daring yang tiap hari kasih diskon.
Apa Artinya Buat Pelanggan
Kabar ini bikin tanda tanya soal nasib jaringan toko dan merek Babies R Us di Jepang. Karena akuisisinya diarahkan ke Pan Pacific, salah satu operator ritel raksasa di negeri itu, bukan mustahil toko-tokonya bakal beroperasi dengan wajah baru di bawah payung yang berbeda.
Tapi buat sekarang, belum ada keterangan resmi soal jadwal penutupan, format toko ke depan, atau apakah mereknya tetap dipakai. Semua masih di level "dikabarkan" dan "diperkirakan". Buat karyawan dan pelanggan, ketidakpastian ini mungkin bagian paling nggak nyamannya.
Sosok di Balik Akuisisi
Pan Pacific International Holdings bukan nama asing di ritel Jepang. Lewat jaringan Don Quijote, perusahaan ini menjalankan toko diskon yang menjual hampir segala hal, dari camilan sampai elektronik, dan dikenal luas lewat julukan "Donki" di kalangan wisatawan. Kalau rencana akuisisi ini jalan, mereka menambah jangkauan di segmen mainan dan barang bayi.
Buat Pan Pacific, menyerap jaringan yang sudah punya nama dan lokasi strategis bisa jadi cara memperluas portofolio tanpa membangun dari nol. Tapi tiap akuisisi selalu bawa tantangan sendiri: menyatukan budaya kerja, merapikan operasional, dan memutuskan merek mana yang tetap dipakai.
Jejak Panjang di Jepang
Kalau ditarik ke belakang, Toys R Us masuk Jepang pada 1991. Saat itu, toko mainan raksasa masih jadi salah satu tujuan favorit keluarga di akhir pekan, tempat anak-anak bisa menghabiskan berjam-jam cuma buat lihat-lihat rak. Merek ini lalu jadi bagian dari masa kecil banyak orang.
Yang bikin cerita ini unik, unit Jepang bertahan melewati badai yang menenggelamkan induknya di AS. Tapi bertahan bukan berarti bebas tekanan. Perlahan, jumlah pengunjung toko fisik berkurang, sementara biaya operasional gerai besar nggak ikut menyusut. Kombinasi itu yang akhirnya membuat keputusan mundur terasa makin masuk akal.
Ketidakpastian yang Wajar
Sampai sekarang, belum ada pernyataan resmi soal apa yang bakal terjadi ke sekitar 150 toko dan karyawannya. Dalam kasus seperti ini, ketidakpastian biasanya bukan cuma soal merek, tapi soal orang-orang yang bekerja di dalamnya. Apakah gerai tetap buka dengan nama baru, atau sebagian ditutup, masih jadi tanda tanya. Buat pelanggan, kabar ini mungkin terasa seperti kehilangan kecil. Buat karyawan, dampaknya bisa jauh lebih nyata.
Pola yang Lebih Besar
Cerita Toys R Us ini sebenarnya cermin dari tekanan yang menghantam ritel mainan fisik di banyak negara maju. Bukan cuma soal mainan, tapi soal bagaimana kebiasaan belanja berubah total dalam dua dekade terakhir. Toko fisik yang dulu jadi tempat anak-anak mengelilingi rak, perlahan digantikan layar yang menawarkan pilihan hampir tanpa batas.
Jepang, dengan populasi yang menua dan angka kelahiran yang rendah, merasakan tekanannya lebih keras. Merek yang punya nama besar sekali pun nggak otomatis aman kalau fondasi pasarnya ikut menyusut.
Buat lo yang punya kenangan ngumpul di lorong toko mainan, ini pengingat pahit kalau bisnis nostalgia kadang kalah sama arus zaman. Sementara itu, semua mata sekarang tertuju ke Pan Pacific dan keputusan mereka selanjutnya. Apakah mereka mengubah gerai jadi format baru, atau menutup sebagian, masih belum jelas. Yang jelas, chapter Toys R Us di Jepang sedang menuju halaman terakhirnya.