‹ kembali ke daftar
NOTE 01/OKT/2026

10 Situs yang Gue Pakai Tiap Hari tapi Gak Ada yang Bahas di Thread Twitter

Dari radar cuaca sampai portal pajak, ini situs-situs yang jarang dibahas tapi bikin hidup kerja di Jepang tetap jalan.

Ada satu hal yang bikin gue aneh: setiap kali ada thread "10 situs wajib" atau "tools yang lo harus tau" di Twitter/X, isinya selalu sama. Notion, Obsidian, Linear, Raycast, Arc Browser. Flashy. Keren. Tapi bukan itu yang gue buka tiap pagi.

Gue hidup di Jepang. Gue kerja di dunia tech. Gue ngurusin uang yang bolak-balik antara yen dan rupiah. Dan yang bikin hidup gue jalan bukan tools yang estetik, tapi situs-situs yang nggak ada orang yang mau bahas karena terlalu spesifik, terlalu teknis, atau terlalu biasa.

Ilustrasi: bekerja dan hidup di Jepang dengan bantuan layanan digital sehari-hari (kredit: Wikimedia Commons, File: Minato City, Tokyo, Japan (Night).jpg)
Ilustrasi: bekerja dan hidup di Jepang dengan bantuan layanan digital sehari-hari (kredit: Wikimedia Commons, File: Minato City, Tokyo, Japan (Night).jpg)

Jadi ini list-nya. Bukan "10 situs produktif" atau "10 tools developer". Ini 10 situs yang kalau gue ilang sehari, hidup gue langsung mepet.

Tenki.jp (天気)

URL: tenki.jp (versi JMA: jma.go.jp)

Gue bukan orang yang cek cuaca di Google. Gue cek Tenki.jp, atau langsung portal Japan Meteorological Agency, karena satu alasan: radar curah hujan per jam.

Di Jepang, hujan bukan sekadar "ada hujan". Ada bedanya antara gerimis (小雨, kosame), hujan ringan, dan hujan lebat (大雨, ooame) — dan bedanya bikin lo harus nentuin: bawa payung, nunggu 20 menit, atau milih rute lain.

Yang gue dapat dari Tenki.jp:

Kenapa gak ada yang bahas? Karena ini terlalu spesifik Jepang. Di Indonesia orang cek BMKG. Di sini semua orang lokal pakai ini, tapi gak ada yang bikin thread soal itu. Buat WNA yang baru datang, ini semacam alat bertahan hidup yang gak pernah dijelasin. Gue buka tiap pagi sebelum keluar rumah, dan sekali lagi jam 12 kalau ada rencana makan malam di luar.

Jorudan (ジョルダン)

URL: jorudan.co.jp

Ini transit planner andalan buat Jepang. Bukan Google Maps (yang juga oke, tapi tetap beda), bukan Apple Maps (yang kadang salah rute Shinkansen), tapi Jorudan.

Kenapa Jorudan?

Gue pakai ini buat commute, buat rencana jalan akhir pekan, dan buat ngecek kalau ada signal stop atau henti darurat yang bikin gue harus milih rute alternatif.

Kenapa gak ada yang bahas? Karena ini membosankan. Gak ada wow factor. Lo nggak bakal bikin thread "Jorudan mengubah hidup gue". Tapi setiap kali gue salah hitung waktu transfer dan telat 10 menit ke meeting, gue nyesel bukan buka Jorudan.

e-Tax (国税 e-Tax)

URL: e-tax.nta.go.jp

Oke, ini yang paling membosankan tapi paling diperlukan dalam hidup gue.

e-Tax adalah portal pajak Jepang. Gue login ke sini untuk:

Prosesnya? Kalau lo gak familiar dengan sistem pajak Jepang, ini seperti masuk dungeon di game RPG. Form-nya panjang, istilahnya teknis, dan deadline-nya tegas. Kalau lewat, ada penalti.

Tapi gue buka ini tiap kali ada hal terkait uang. Pas gajian, gue cek berapa yang dipotong buat pajak. Pas nenmatsu kessan, gue cross-check berapa yang gue terima kembali. Pas pindah domisili, gue juga harus update data di sini.

Kenapa gak ada yang bahas? Karena ini portal pemerintah. Gak ada yang bikin thread "pengalaman favorit gue mengisi pajak". Tapi buat orang yang kerja di Jepang dan pegang gaji dalam yen, ini situs yang wajib ngerti. Dan jujur, belum ada satu pun panduan Indonesia yang jelasin e-Tax dengan baik buat WNA.

Wise / exchangerate.host (cek kurs)

URL: wise.com atau exchangerate.host

Gue cek kurs JPY ke IDR setiap kali mau kirim uang ke Indonesia.

Kenapa?

Gue biasanya pasang patokan sederhana: kalau 1 JPY setara 11,5 IDR atau lebih, itu waktu yang bagus. Kalau di bawah 11, gue tunggu dulu.

Kenapa gak ada yang bahas? Karena ini terlalu spesifik buat audiens umum. Yang ngecek kurs JPY ke IDR tiap minggu itu praktis orang Indonesia yang kerja di Jepang. Komunitasnya kecil, dan yang tahu biasanya saling share di grup LINE, bukan di Twitter.

UptimeRobot

URL: uptimerobot.com

Gue punya beberapa service yang jalan di cloud, termasuk blog ini, beberapa API kecil, dan urusan infrastruktur lain. Yang bikin gue pusing bukan pas service-nya down, tapi pas gue baru sadar service sudah down 30 menit dan gak ada yang notice.

UptimeRobot cek tiap 1 menit dan langsung kirim notifikasi ke email plus LINE. Ya, LINE, karena di Jepang hampir semua notifikasi lewat LINE.

Yang gue suka:

Kenapa gak ada yang bahas? Karena ini infrastruktur. Gak ada yang bikin thread "gue pakai UptimeRobot dan gue bahagia". Ini semacam sikat gigi: penting, tapi nggak ada yang mau bahas rutinitas sikat giginya.

住民票 (jūminhyō) dan portal kotamadya

URL: tergantung kota. Contoh Shinjuku: city.shinjuku.lg.jp

Ini yang bikin gue sebel sama birokrasi Jepang tapi sekaligus respect.

Tiap kali gue pindah apartemen, daftar ulang jūminhyō (kartu keterangan penduduk), urus asuransi kesehatan nasional, atau daftar pajak properti, gue harus ke ward office atau pakai portal online mereka.

Masalahnya: tiap kotamadya punya portal berbeda. UI-nya beda. Form-nya beda. Nama layanannya beda. Yang di Shinjuku gak sama dengan yang di Yokohama.

Gue sekarang punya folder bookmark khusus per kotamadya yang pernah gue tinggali. Dan setiap kali pindah, gue harus belajar ulang portal barunya.

Kenapa gak ada yang bahas? Karena ini level pemerintah lokal. Gak ada yang bikin thread "gue sukses urus pindah domisili di ward office Shinjuku". Tapi buat orang yang pindah-pindah di Jepang, ini perjuangan harian yang gak pernah ada di panduan "living in Japan for foreigners".

Japan Post Tracking (郵便局)

URL: trackings.post.japanpost.jp

Gue terima cukup banyak paket: dari Amazon Japan, dokumen dari kantor, dan kadang barang dari Indonesia.

Tracking Japan Post itu sederhana tapi andal. Lo masukin nomor resi, lo lihat statusnya, lo tahu kapan tiba. Gak ada "paket lo kemungkinan ada di hub" yang serba samar.

Yang gue suka:

Kenapa gak ada yang bahas? Karena ini logistik. Gak ada yang bikin thread "tracking Japan Post itu andal". Tapi gue benar-benar cek ini 3 sampai 4 kali sehari kalau ada paket penting. Dan tiap kali gue lupa cek lalu paketnya numpang di kantor pos 3 hari, gue nyesel.

GitHub

URL: github.com

Ini mungkin yang paling terduga di list ini. Tapi yang gue mau tekankan bukan "GitHub itu penting", melainkan workflow gue di GitHub yang beda dari kebanyakan developer.

Gue pakai GitHub untuk:

Yang bikin gue beda: gue pakai keyboard shortcut secara intensif. Gue jarang pakai mouse di GitHub. Gue navigasi pakai t (ke file), j dan k (pindah), o (buka), e (edit). Ini bukan productivity hack, ini soal bertahan: kalau gue pakai mouse, gue jadi lebih lambat.

Kenapa gak ada yang bahas? Karena GitHub sudah terlalu mainstream. Gak ada yang bikin thread "gue pakai GitHub". Yang ramai dibahas justru "pengalaman gue pakai GitHub Copilot" atau "gue bikin X dengan GitHub Actions". Tapi workflow harian gue di GitHub? Gak ada yang mau tahu.

確定申告 (kakutei shinkoku) dan software pajak

URL: nta.go.jp (portal resmi) plus software pajak

Ini turunan dari e-Tax di atas, tapi cukup beda buat dapat tempat sendiri.

Kakutei shinkoku adalah pelaporan pajak tahunan di Jepang. Buat WNA yang kerja di Jepang, ini bukan opsional kalau lo punya penghasilan sampingan (freelance, YouTube, pendapatan blog), dapat bonus besar, atau punya potongan yang mau diklaim seperti biaya medis dan pendidikan.

Yang gue pakai:

Prosesnya: gue kumpulin semua struk sepanjang tahun (ya, gue benar-benar foto tiap struk dan simpan di folder), masukin ke software, lalu submit. Periode pelaporannya 16 Februari sampai 15 Maret.

Kenapa gak ada yang bahas? Karena ini musim pajak. Gak ada yang bikin thread "gue baru selesai kakutei shinkoku dan gue merasa hebat". Tapi buat orang yang punya beberapa sumber penghasilan di Jepang, ini sakit kepala tahunan yang selalu terasa setiap kali.

DeepL (翻訳)

URL: deepl.com (API: deepl.com/pro-api)

Gue benar-benar hidup di 3 bahasa: Indonesia, Jepang, dan Inggris untuk kerjaan teknis.

DeepL adalah pekerja keras gue untuk:

Kenapa DeepL, bukan Google Translate? DeepL lebih akurat untuk bahasa formal yang penting buat dokumen resmi, gak hancur di istilah teknis, dan API-nya stabil serta bisa diprediksi.

Workflow gue: copy teks, paste ke DeepL, review karena gak ada terjemahan yang sempurna, lalu paste ke tujuan.

Kenapa gak ada yang bahas? Karena penerjemahan itu kerja tak terlihat. Gak ada yang bikin thread "gue baru terjemahin dokumen pajak Jepang 50 halaman dan gue merasa hebat". Tapi tiap hari gue benar-benar menerjemahkan 10 sampai 20 potong teks di antara 3 bahasa. Ini rutinitas harian yang gak pernah kelihatan.

Penutup

Ini 10 situs yang membosankan. Gak flashy. Gak viral. Gak ada yang bikin thread soal ini.

Tapi ini yang bikin hidup gue jalan. Ini yang bikin gue tepat waktu ke meeting, tepat waktu bayar pajak, tepat waktu terima paket, dan tepat waktu kirim uang ke rumah.

BACA JUGA

ARTIKEL TERBARU