Menurut The New York Times, OpenAI lewat CEO-nya sekarang beli rights untuk serial streaming TBPN agar bisa ngeluncurin versi yang lebih nyambung sama visi mereka. Bukan sekadar sponsorship; OpenAI pengen ikut ngatur narasi. Mereka sadar publik lagi banyak yang cuma tahu AI dari headline yang dramatis—bahaya, penggelapan, atau robot nyerang dunia—padahal kenyataannya teknologi ini juga bisa bantu gelaran kreatif, karya ilmiah, dan pekerja yang lagi cari cara buat kerja lebih sehat.
Rencana awalnya: tunjuk tim kreatif untuk ngasih ruang cerita yang nunjukin tantangan plus tanggung jawab dalam ngembangin AI. Ada tokoh utama yang makai AI buat bantuin komunitas lokal, tapi juga harus ngadepin kekhawatiran warganya—jadi ada dialog soal transparansi, privasi, dan pembuatan aturan. Lewat pendekatan storytelling kayak gini, OpenAI berharap penonton bisa ngeliat sisi manusia yang nyiptain teknologi, bukan cuma mesin yang kejam.
OpenAI juga ngasih akses backstage ke penonton: mereka nge-stream diskusi editorial, sesi Q&A sama penulis, dan ngundang kritikus independen buat kasih komentar. Tujuannya biar proses produksi nggak dikurung di ruang rapat. Mereka pengen orang tahu bahwa AI juga butuh audit moral, dan bagian dari cerita ini adalah siapa yang punya suara.
Tentu saja, ada yang skeptis—beberapa jurnalis nanya, apakah ini PR move? Tapi buat OpenAI, ini kesempatan buat nyambung ke audiens yang selama ini cuma kepo soal headline. Mereka mau nunjukin bahwa AI bisa tampil sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari tanpa bikin kepo terus. Kuncinya: transparency dan ngasih ruang buat pertanyaan kritis.
Sumber: The New York Times — “OpenAI Buys Streaming Show ‘TBPN,’ Aiming to Change Narrative on A.I.” (April 2026).