‹ kembali ke daftar#9 / 64
NEWS 30/SEP/2026

Buku Bekas di Jepang Diborong dalam Jumlah Aneh, Diduga Buat Latih AI

Toko buku bekas di Jepang kebanjiran order buku nonfiksi dalam jumlah besar dan interval yang aneh. Banyak yang menduga buku itu diborong buat melatih AI.

Toko Buku Bekas yang Tiba-Tiba Kebanjiran Order

Ada satu jenis usaha kecil yang biasanya paling susah bertahan: toko buku bekas di pinggir jalan. Bersaing sama jaringan toko murah, tiap hari digempur alternatif digital yang lebih cepat dan lebih praktis, membuat banyak pemiliknya sekadar bisa menutup biaya. Jadi lo bisa bayangin betapa lega rasanya waktu sejumlah toko buku bekas di berbagai penjuru Jepang mulai menerima order besar-besaran untuk buku-buku mahal bertema nonfiksi, kayak sejarah, kedokteran, sampai filsafat.

Tapi kelegaan itu nggak bertahan lama. Ketika order serupa terus datang dengan jeda yang anehnya teratur, suasana mulai berubah jadi merinding. Ini bukan cerita satu toko doang, tapi pola yang muncul di beberapa tempat sekaligus. Dan pertanyaan besarnya sama: siapa, atau apa, yang sebenernya sedang memborong buku-buku itu?

Ilustrasi rak buku bekas di Jepang (kredit: japantoday.com)
Ilustrasi rak buku bekas di Jepang (kredit: japantoday.com)

Detail yang Bikin Merinding

Menurut laporan Japan Today yang mengutip SoraNews24 TOKYO, ada satu toko buku di Tokyo yang total menjual lebih dari 1.000 buku ke satu alamat pengiriman saja. Awalnya terlihat seperti berkah. Sampai si pemilik mengamati lebih teliti dan sadar bahwa tiap order dibuat pada interval yang presisisnya nggak manusiawi. Bukan pola orang belanja, melainkan semacam ritme mesin.

Di sisi lain Jepang, seorang pemilik toko lain mengaku menerima order berupa puluhan ribu buku dari sebuah perusahaan di luar negeri. Kalau lo perhatikan satu benang merah yang konsisten di hampir semua kasus: yang diborong hampir selalu buku nonfiksi, bukan judul fiksi dan manga yang biasanya paling laris. Artinya, bukan pembeli biasa yang sedang berburu hiburan atau koleksi. Ada maksud spesifik di balik daftar belanjanya.

Sejumlah besar pesanan itu dikirim ke sebuah pusat logistik di Prefektur Okayama. Tapi waktu media mendekat dan menanyakan soal itu, pihak pusat logistik menolak memberi tahu siapa pembelinya dan di mana dia berada. Ketertutupan ini justru menambah kesan bahwa ada sesuatu yang memang sengaja disembunyikan.

Bukan cuma soal toko buku bekas. Data perdagangan menunjukkan bahwa sebuah distributor buku besar Jepang telah menjual lebih dari 50 ton buku ke Amerika Serikat dalam setahun terakhir. Ketika dimintai keterangan, pihak distributor juga menolak merinci apa isi penjualan tersebut. Dua petunjuk ini, kalau digabung, menggambar pola pengiriman buku dalam skala industri, bukan borongan iseng.

Kenapa Semua Mata Mengarah ke AI

Orang-orang di bisnis buku bekas kini makin khawatir bahwa buku-buku itu dipakai untuk melatih model AI. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Pada awal tahun ini, perusahaan AI Anthropic mengungkap bahwa mereka membeli buku untuk melatih chatbot Claude miliknya, dan bahwa praktik semacam itu sudah jadi hal umum di industri.

Logikanya kira-kira begini. Model bahasa butuh teks dalam jumlah luar biasa besar untuk belajar. Buku adalah sumber teks yang padat, panjang, dan relatif terkurasi dibanding tulisan acak di internet. Buku nonfiksi soal sejarah, kedokteran, dan filsafat justru sangat bernilai karena isinya padat pengetahuan dan bahasa yang terstruktur. Jadi kalau lo mau melatih model supaya "pintar", membeli rak-rak buku bekas secara massal itu masuk akal, meski caranya terasa mengerikan.

Yang bikin banyak orang gelisah, dalam hampir semua kasus, buku-buku itu dihancurkan dalam proses pemindaian alias scanning dan setelah itu nggak berguna lagi. Buku bukan dipindahkan, bukan disimpan, bukan dijual ulang. Dia dibaca oleh mesin, lalu lenyap. Bagi beberapa orang, ini terdengar seperti versi modern dari membakar perpustakaan, tapi dijual sebagai transaksi bisnis biasa.

Dilema Para Penjual Buku

Kejadian ini meninggalkan rasa konflik batin buat para penjual buku di Jepang. Di satu sisi, lonjakan pendapatan itu jelas menyenangkan, apalagi buat usaha yang biasanya mepet. Di sisi lain, membayangkan stok kebijaksanaan manusia yang sudah mereka kumpulkan dikirim ke mesin penghancur, demi memberi makan teknologi yang suatu hari bisa menghabisi usaha mereka sendiri, jelas bukan pikiran yang menyenangkan.

Bayangin lo jadi pemilik toko itu. Selama ini lo bertahan menjual buku yang lo anggap punya nilai, lalu tiba-tiba ada yang mau membeli semuanya dalam jumlah besar. Uangnya nyata, dan itu bisa menyelamatkan usaha lo. Tapi lo tahu buku-buku itu nggak akan pernah dibaca manusia lagi. Bagi sebagian penjual, ini seperti menjual warisan sendiri ke sesuatu yang belum jelas siapa.

Reaksi Warganet yang Terbelah

Reaksi di kolom komentar soal berita ini terbelah hampir pas di tengah. Ada yang menganggap ini bisa jadi tanda akhir peradaban, tapi ada juga yang percaya bahwa menyerahkan lebih banyak budaya dan konsep Jepang ke AI asing justru bisa membuat teknologi itu lebih berguna buat orang Jepang sendiri. Beberapa komentar yang muncul di Japan Today cukup mewakili dua kubu ini.

Ada yang menyoroti nasib buku-buku itu, seperti komentar: _"The books are cut, scanned, and tossed. And how faithful is this digital reincarnation? If the AI just devours it, then we risk losing our own history."_ Kekhawatiran serupa juga datang dari komentar yang menyebut buku nggak dibuat untuk keperluan ini dan menyebutnya sebagai eksploitasi Jepang oleh kepentingan asing.

Menariknya, ada juga yang membawa bukti anekdotal soal AI yang terasa "terlalu tahu" isi buku tertentu, yang langsung dikaitkan dengan praktik pelatihan ini. Di kubu seberang, banyak yang justru bertanya balik: mengingat kondisi pasar buku bekas yang sudah susah, bukankah pemilik toko seharusnya senang? Ada yang berargumen banyak buku itu toh akan dibuang dan dibakar, jadi daripada musnah percuma, mending dijual. Sebagian menilai ini sekadar situasi untung di dua sisi.

Sisi kelamnya juga nggak luput dari perhatian. Ada warganet yang cemas kalau AI makin jago berbahasa Jepang, upaya penipuan bisa jadi lebih meyakinkan. Ada pula yang khawatir kalau semua buku lama ini dikumpulkan ke dalam AI, dan kemudian suatu hari pusat data tumbang, seluruh budaya ikut hilang bersamanya.

Yang Sebenernya Bikin Gelisah

Kalau lo tarik mundur sebentar, sumber kegelisahannya bukan sekadar soal buku. Ini soal siapa yang berhak "mengingat". Selama ini, perpustakaan dan toko buku bekas adalah tempat pengetahuan disimpan dalam bentuk fisik, bisa dibuka, dikutip, dan diwariskan. Sekarang ada pembeli yang memborong ribuan judul, memindainya sampai hancur, dan nggak mau memberi tahu siapa dirinya.

Untuk sekarang, belum ada yang bisa memastikan siapa dalang di balik semua order ini. Yang pasti, pola pembeliannya terlalu presisi, terlalu besar, dan terlalu fokus pada buku nonfiksi untuk disebut kebetulan. Entah ini benar-benar industri AI, entah ada skema lain di baliknya, para penjual buku di Jepang cuma bisa menebak sambil menerima kenyataan bahwa stok mereka mungkin sedang berubah jadi bahan bakar mesin.

Kalau lo punya toko buku bekas dan tiba-tiba ada yang mau membeli sejuta buku tanpa mau menyebut nama, lo bakal bilang apa? Itu pertanyaan yang sekarang menghantui banyak pemilik toko di Jepang, dan jawabannya sepertinya belum akan ketemu dalam waktu dekat.

BACA JUGA