Klaim Palsu soal Pencurian oleh Orang Asing di Jepang Menyebar di Media Sosial

Lagi-lagi media sosial jadi ladang hoaks. Kali ini soal orang asing di Jepang. Sejumlah unggahan yang menuduh orang asing melakukan pencurian di Jepang menyebar luas di media sosial, dan sudah dilihat jutaan kali. Masalahnya, menurut sebuah firma keamanan siber, banyak dari klaim itu tidak berdasar.
Karena isinya masih berupa klaim yang beredar dan belum terverifikasi, penting buat lo baca ini dengan kepala dingin. Jangan langsung percaya, apalagi ikut menyebarkan.
Dilihat Jutaan Kali
Menurut temuan Constella Security Japan Inc, sebuah firma keamanan siber yang berbasis di Tokyo, unggahan-unggahan tersebut sudah mengumpulkan sekitar 4,3 juta penayangan di X, YouTube, dan platform lain. Angka itu terhitung sampai 15 September.
Yang bikin repot, salah satu unggahan di X ternyata pertama kali muncul pada Maret. Artinya konten itu sudah berputar cukup lama sebelum akhirnya meledak dan menuai perhatian besar.
Perlu ditegaskan, angka-angka itu adalah hasil penelitian Constella, bukan data resmi pemerintah. Dan klaim pencurian yang disebarkan di unggahan-unggahan tersebut tetap masuk kategori klaim yang beredar, bukan fakta yang sudah dibuktikan.
Videonya Datang dari Mana?
Bagian paling menohok dari temuan ini soal asal-usul videonya. Constella menemukan bahwa rekaman yang dipakai dalam unggahan-unggahan itu cocok dengan sebuah video yang diunggah di Instagram dalam bahasa Arab, dan diunggah dari luar Jepang pada Agustus tahun lalu.
Dengan kata lain, peristiwa dalam video itu menurut temuan tersebut tidak terjadi di Jepang. Video itu disebut sama sekali tidak berkaitan dengan perkeretaapian Jepang maupun kasus pencurian di Jepang. Jadi narasi yang menempelkan video itu ke konteks Jepang termasuk yang perlu dicurigai.
Buat lo yang sering lihat video viral soal "orang asing mencuri di Jepang", ini pengingat bagus: cek dulu konteksnya. Video bisa saja asli, tapi ditempelkan ke cerita yang salah.
Pola Akun yang Menyebarkan
Constella juga menyoroti siapa yang menyebarkan klaim-klaim itu. Banyak akun di balik unggahan tersebut sebelumnya pernah membagikan konten yang menolak Jepang menerima pekerja asing. Salah satu akun disebut punya sekitar 70.000 pengikut.
Artinya, menurut temuan itu, penyebaran klaim ini bukan sekadar kesalahpahaman biasa, melainkan bagian dari pola narasi anti-asing yang sudah berjalan sebelumnya.
Ryuna Nagamine, seorang analis di Constella, menyoroti soal bagaimana disinformasi semacam ini bergerak. Buat lo yang aktif di media sosial, pola seperti ini penting dikenali: akun yang rutin menyerang satu kelompok biasanya tidak berhenti di satu isu saja.
Perlu dicatat, temuan soal motif akun-akun tersebut adalah hasil analisis firma tersebut, bukan putusan resmi dari pihak berwenang.
Bukan Pertama Kali di Jepang
Sayangnya, ini bukan kasus pertama. Menurut catatan yang sama, disinformasi soal orang asing di Jepang sudah beberapa kali muncul, misalnya setelah gempa dan tsunami 2011 serta gempa Ishikawa pada 2024. Pada momen-momen darurat, informasi yang belum terverifikasi memang gampang menyebar karena orang cari kabar dengan cepat.
Selain itu, unggahan bernada anti-asing juga sempat marak saat musim pemilihan nasional. Pola musiman seperti ini bikin hoaks lebih cepat viral, karena isu identitas gampang dipakai buat menarik perhatian.
Kenapa Hoaks Gampang Menang
Ada alasan kenapa klaim seperti ini bisa menembus jutaan penayangan. Pertama, kontennya emosional. Tuduhan pencurian langsung memicu amarah dan rasa tidak aman, dua emosi yang paling gampang bikin orang menekan tombol bagikan.
Kedua, formatnya video. Rekaman bergerak terasa lebih meyakinkan daripada tulisan, padahal konteksnya bisa saja salah tempat. Ketiga, algoritma cenderung mendorong konten yang banyak diperdebatkan, jadi hoaks yang ramai komentar malah makin naik.
Kalau ketiga hal itu digabung, wajar kalau klaim yang belum terverifikasi bisa terlihat seperti fakta. Buat lo yang aktif di media sosial, mengenali pola ini lebih berguna daripada sekadar percaya pada tampilan luarnya.
Yang perlu diingat, ini bukan soal siapa yang paling pintar. Semua orang bisa ketipu kalau kontennya dibuat meyakinkan. Bedanya, orang yang terbiasa cek konteks punya peluang lebih kecil untuk ikut menyebarkan.
Kenapa Ini Penting Buat Lo
Buat lo yang tinggal di Jepang, baik sebagai pelajar, pekerja, maupun penduduk lama, hoaks seperti ini bisa berdampak nyata. Reputasi orang asing secara umum bisa terusik, dan suasana sosial bisa ikut memanas.
Buat lo yang cuma jadi pembaca, ada beberapa kebiasaan sederhana yang membantu:
- Tahan dulu sebelum membagikan. Cek apakah sumbernya jelas dan bisa diverifikasi.
- Curigai video tanpa konteks. Banyak video viral berasal dari peristiwa di negara lain.
- Lihat siapa yang menyebarkan. Kalau akunnya punya riwayat menyerang kelompok tertentu, lebih hati-hati.
- Cari konfirmasi dari media kredibel sebelum menyimpulkan.
Buat lo yang punya keluarga atau teman yang belum paham soal ini, menjelaskan pelan-pelan juga membantu. Hoaks sering menyebar lewat percakapan sehari-hari, jadi memutus rantainya bisa dimulai dari obrolan kecil. Kalau ketemu konten serupa, pakai fitur lapor di platform dan jangan buru-buru ikut mengomentari, karena komentar justru bikin jangkauannya makin lebar. Dan kalau ragu, tanya dulu ke orang yang lebih paham.
Intinya, punya sikap skeptis itu tidak berarti sok pintar. Justru itu cara paling gampang supaya lo tidak ikut menyebarkan kebohongan yang merugikan orang lain.