DoMo Farm, Kebun Telur Keempat Singapura, Mulai Dibangun Usai Tertunda Empat Tahun
Lo pernah bayangin makan telur mentah tanpa takut sakit perut? Di Jepang itu hal biasa. Nah, Singapura pengen bawa pengalaman itu ke meja makan warganya. Tapi ceritanya nggak mulus — proyek kebun telur keempat mereka baru saja pecah telur (literally) pada 29 September, setelah mangkrak empat tahun.
Gue nemu cerita ini dari The Straits Times, dan jujur, ini contoh bagus kenapa "swasembada pangan" itu kalimat yang gampang diucapkan tapi neraka buat dieksekusi.
Apa yang Dibangun, dan Kenapa Telur Jepang
Kebun telur ini namanya DoMo Farm, dan pemiliknya adalah ISE Foods Holdings — anak perusahaan dari Ellipsiz, perusahaan yang juga bergerak di bidang teknologi. Yang bikin beda: DoMo Farm pengen menghadirkan telur sekelas Jepang, yang ciri khasnya kuning telur berwarna oranye pekat, dan yang paling penting — aman dimakan mentah.
Buat lo yang pernah lihat telur Jepang di restoran, itu bukan cuma gimmick. Standar biosekuriti di peternakan Jepang memang ketat banget, sampai telurnya aman langsung dipecah ke atas nasi tanpa dimasak. Singapura pengen punya itu di dalam negeri sendiri.
Ceremonial groundbreaking-nya digelar di Lim Chu Kang, dengan tamu kehormatan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu. Nilai proyeknya disebut 110 juta dolar Singapura.
Kenapa Molor Empat Tahun
Ini bagian yang paling menarik buat gue. Versi awal DoMo Farm harusnya mulai produksi tahun 2024. Sekarang mundur jadi 2028.
Alasannya bukan karena males-malesan. Kata pemiliknya, ISE Foods Holdings, konstruksi ditunda supaya kebun bisa menaruh langkah biosekuriti yang memadai tanpa mengorbankan target produksi. Artinya, mereka nggak mau buru-buru bangun terus ternaknya kena wabah. Masuk akal.

Masalahnya, rencana awal itu kepencar. Peternakan ini semula dirancang di lahan 10 hektar di Kranji Way. Ternyata lahan itu terlalu kecil buat memenuhi kebutuhan biosekuriti sekaligus target awal 360 juta telur per tahun. So mereka minta lahan tambahan ke Singapore Food Agency (SFA), dan akhirnya dapat plot baru seluas 15 hektar.
Efeknya: operasi dikonsolidasi dari empat lokasi jadi dua. Lahan 15 hektar itu bakal menampung kandang petelur, kandang pullet (tempat anak ayam tumbuh jadi ayam petelur), plus fasilitas pengolahan kotoran yang pakai fermentasi untuk mengubah limbah jadi pupuk organik.
Ada faktor lain yang nggak kalah berat: biaya konstruksi yang naik imbas ketegangan geopolitik, perang Rusia-Ukraina, krisis energi, dan gangguan rantai pasok pasca-pandemi. DoMo Farm diumumkan persis di masa-masa kacau itu.
Tapi ada sisi manis dari keterlambatan itu. Eksekutif DoMo Farm, Kenneth Ho, bilang mundurnya jadwal justru bikin teknologi kecerdasan artifisial (AI) sempat matang, jadi makin pas dipakai buat operasi peternakan. Contohnya: kandang petelur akan punya robot patroli yang mengawasi kesehatan ayam. Tiap kandang isinya 150.000 ayam, dibagi dalam enam baris kandang bertingkat 10. Robot-robot itu dilengkapi pemantauan kesehatan prediktif bertenaga AI, sensor pendeteksi panas, dan kamera — biar intervensi cepat begitu ada gejala penyakit.
Ini penting, karena di 2022 salah satu dari tiga kebun telur Singapura, Seng Choon Farm, pernah kena wabah Newcastle disease yang bikin produksi telur turun sementara. Dan ancaman virus flu burung strain H5 tetap menghantui, karena sudah menyebar ke semua benua dan bahkan menginfeksi lebih dari 50 spesies mamalia.
Angka dan Target Pangan Singapura
Sekarang ke angka-angkanya.
Saat ini Singapura punya tiga kebun telur: Chew's Agriculture, Seng Choon Farm, dan N&N Agriculture. Sepanjang 2025, ketiganya menghasilkan lebih dari 736 juta telur. Tapi total konsumsi telur Singapura di tahun yang sama tembus lebih dari 2,2 miliar telur. Hitung sendiri — produksi lokal masih jauh di bawah kebutuhan.
Nah, DoMo Farm bakal menyerbu celah itu. Begitu beroperasi di 2028, fasilitas ini ditargetkan memproduksi sekitar 380 juta telur per tahun. Dan kalau rencana ekspansinya jalan, angkanya bisa naik jadi lebih dari 500 juta telur per tahun.
Konsekuensinya besar: kalau target 500 juta itu tercapai, produksi telur lokal Singapura bakal melewati separuh konsumsi telur nasional tahun 2025. Itu lompatan yang nggak main-main untuk negara yang hampir semuanya diimpor.
Soal harga, manajemen bilang telur mereka bakal kompetitif. Sebagai gambaran, harga telur kebun lokal saat ini berkisar 3,35–7 dolar Singapura di FairPrice dan Cold Storage.
Satu detail penting: hatchery dan fasilitas breeder DoMo Farm belum jadi pada 2028. Keduanya akan ditempatkan di lahan terpisah 4 hektar di Neo Tiew Crescent, sebagai fase berikutnya pasca-2028. Artinya, telur DoMo Farm yang pertama tetap bakal dihasilkan dari ayam yang diimpor dari Malaysia dalam bentuk day-old chick — sama seperti tiga kebun telur lainnya.
Jadi ya, cita-cita mandiri telur itu masih bertahap. Ho bahkan nggak mau kasih tenggat spesifik buat hatchery dan fasilitas breeder ini. Tapi kalau nanti terwujud, DoMo Farm bakal jadi kebun telur pertama di Singapura yang punya hatchery dan fasilitas breeder sendiri, buat kurangi ketergantungan pada impor anak ayam.
Kutipan
Kenneth Ho bilang soal biaya:
"Kami punya banyak waktu untuk perencanaan dan desain yang detail, jadi kami bisa menekan biaya... tapi dengan kapasitas produksi yang sekarang lebih tinggi."
Dan soal filosofi bisnisnya, Ho menegaskan:
"Kami percaya bahwa ketahanan pangan dan keberlanjutan komersial harus berjalan beriringan."
Yang paling kuat justru datang dari Grace Fu di acara groundbreaking. Dia juga menyoroti bahwa kebun ini bakal mengandalkan tenaga surya, punya gudang telur otomatis, plus fasilitas dengan pengaturan iklim:
"Sebagai negara yang mengimpor sebagian besar pangan kami, peristiwa di seluruh dunia terasa di rak-rak makanan kami. Memperkuat ketahanan pangan kami karena itu bukan soal pilihan, tapi soal keharusan."
Itu kalimat yang gue rasa semua negara bisa jiplak, termasuk kita.
Pelajaran buat Indonesia (Soal Impor Pangan dan Telur)
Oke, buat Indonesia, cerita ini menohok dari arah yang nggak terduga.
Singapura itu negara kecil, lahan terbatas, hampir nggak punya apa-apa. Wajar kalau mereka panik soal pangan. Tapi justru karena keterbatasan itulah mereka nggak pernah main-main: ada SFA yang ngatur, ada dana transformasi Agri-Food Cluster yang dipakai DoMo Farm di akhir 2025 buat bantu biaya infrastruktur hemat energi dan teknologi canggih. Semua diukur, dieksekusi, dan dihitung dampaknya.
Bandingin sama Indonesia, yang katanya lumbung agraris. Kita punya lahan luas, tenaga kerja banyak, tapi beberapa tahun terakhir malah ramai soal impor pangan — mulai beras, bawang, sampai yang jadi topik panas: telur dan anak ayam.
Nah, ironinya, kebun telur Singapura ini soal anak ayamnya aja masih impor dari Malaysia. Kalau Singapura yang jauh lebih kaya dan terstruktur saja masih kesulitan lepas dari impor benih ternak, apa kabar kita?
Pelajaran paling konkret buat gue sih dua hal. Pertama, infrastruktur pangan itu marathon, bukan sprint. DoMo Farm molor empat tahun, dan itu bukan cuma soal uang — tapi biosekuriti. Wabah Newcastle 2022 di Seng Choon jadi tamparan bahwa menghasilkan telur saja nggak cukup kalau sekali kena penyakit semuanya ambruk. Biosekuriti bukan biaya tambahan, tapi fondasi.
Kedua, teknologi harus masuk kandang, bukan cuma jadi bahan pidato. Robot patroli dan sensor AI itu bukan kemewahan; itu cara menekan risiko wabah dan biaya operasional jangka panjang. Indonesia punya banyak peternak kecil yang butuh lompatan teknologi yang sama, tapi aksesnya sering mentok.
Opini Gue
Kalau lo tanya gue, hal paling mengganggu dari cerita ini bukan soal mundurnya empat tahun. Keterlambatan itu masuk akal, bahkan bijak. Yang mengganggu adalah betapa mahal dan lambatnya perjalanan menuju kemandirian pangan, bahkan buat negara semaju Singapura.
Empat tahun itu bukan angka kecil. Selama itu harga pangan global naik-turun, rantai pasok berantakan, dan warga tetap bergantung pada telur impor. Keterlambatan karena biosekuriti memang keputusan bertanggung jawab — tapi ini ngingetin gue bahwa food security itu bukan proyek insidental yang dikerjakan kalau sempat. Kalau negara sekaya Singapura saja harus berkompromi soal jadwal, negara kita yang jauh lebih luas harusnya mikirin ini dengan strategi puluhan tahun.
Gue suka kalimat Grace Fu soal "bukan pilihan, tapi keharusan". Tapi gue bakal tambahin satu hal: keharusan yang nggak diiringi anggaran serius, riset, dan kesabaran politik, cuma bakal jadi slogan di atas kertas.
Telur Jepang di Singapura mungkin bakal jadi kenyataan pada 2028. Pertanyaannya buat kita: sampai kapan kita cuma jadi penonton?
Sumber
- The Straits Times — "S'pore's fourth egg farm, set to produce Japanese eggs, breaks ground after four-year delay" oleh Shabana Begum, 29 September 2026. Link: https://www.straitstimes.com/singapore/environment/spores-fourth-egg-farm-supplying-japanese-eggs-breaks-ground-after-four-year-delay
- Diakses pada 30 September 2026.