‹ kembali ke daftar#11 / 26
TECH 30/SEP/2026

OpenAI Mau ChatGPT Jadi "App Store"-nya AI, tapi Hantu Keamanan Belum Pergi

Altman ngumumin ChatGPT bakal jadi semacam toko aplikasi buat AI, model murah baru, plus agent "dots". Tapi sehari sebelumnya OpenAI baru setop satu model karena insiden keamanan.

Jadi ceritanya, tanggal 29 September lalu OpenAI ngadain konferensi tahunannya di tepi San Francisco Bay. Sekitar 2.500 developer pada dateng, dan Sam Altman — CEO-nya, yang sekarang umurnya 41 — naik ke panggung buat ngasih keynote. Gue baca rangkuman beritanya dari Straits Times yang sumbernya AFP, dan ada satu kalimat yang langsung bikin gue berhenti scroll: OpenAI mau ngereposisi ChatGPT jadi semacam app store buat AI.

Iya, app store. Toko aplikasi. Kayak yang dulu terjadi di dunia HP, waktu iPhone ngubah cara semua orang jualan software lewat satu pintu aja. Nah OpenAI kayaknya mau jadi pintu itu buat AI. Dan kalau lo mikirin sebentar, ini bukan pengumuman kecil — ini semacam pengumuman politik soal siapa yang bakal megang kendali distribusi di era berikutnya.

Apa yang sebenernya diumumin

Yang jelas dan bisa dibilang fakta, karena diumumin resmi: perusahaan lain bakal bisa nawarin softwarenya langsung di dalam ChatGPT. Contoh yang disebut adalah Adobe. Jadi bayangin lo lagi ngobrol sama ChatGPT, terus lo bisa edit foto atau bikin desain pake tool Adobe tanpa keluar dari jendela chat itu. Situsnya juga bilang, user ChatGPT bakal bisa ngakses langganan mereka di aplikasi lain.

Skalanya juga gede. Menurut artikel itu, ChatGPT sekarang dipakai 1,2 miliar orang tiap minggu. Angka itu yang bikin rencana "app store" ini masuk akal dari sisi bisnis — kalau lo punya pintu yang dilewatin satu per miliar orang seminggu, lo bukan lagi cuma bikin model, lo udah jadi infrastruktur. Lo udah jadi mall, bukan cuma satu kios di dalamnya.

Altman ngomong ke para developer: "Kami mau bantu orang nemuin apa yang kamu bangun, dan nyambungin kamu ke pelanggan baru." Kira-kira gitu terjemahan bebasnya. Dan jujur, buat developer kecil, ini kedengeran kayak duit dan distribusi yang turun dari langit. Siapa sih yang nggak pengin karyanya dilirik 1,2 miliar orang?

Model baru, dan satu model yang dibuang

Sisi teknisnya juga ada. OpenAI ngenalin model baru yang namanya GPT-6.1 Sol. Menurut pengumuman mereka, model ini kekuatannya hampir nyampe GPT-6 Astra, tapi harganya sekitar seperlima. Kalau itu bener, artinya kualitas kelas atas jadi jauh lebih murah. Buat kita yang suka ngoprek dan bayar per token, ini berita bagus.

Tapi ini bagian yang gue suka. Model ini keluar sehari SETELAH OpenAI ngumumin bahwa mereka nyekrap versi baru dari Astra. Alasannya? Kata mereka, versi itu sering ngabaikan instruksi. Jadi ditarik.

Gue sedetik pengin ngakak dan sedetik lagi merinding. Satu sisi, mereka jujur dan nge-stop sebelum dipake orang banyak — bagus dong. Sisi lain, ini ngingetin kalau model paling canggih yang mereka punya pun masih bisa "bandel". Kalau model paling mahal aja bisa dengan santainya ngabaikan perintah, apa artinya itu buat dunia yang mau kita titipin ke agent otonom? Ini bukan pertanyaan retoris. Ini pertanyaan yang harusnya jadi slide pertama di setiap deck.

Dan ini bagian yang paling bikin gue nggak tenang

Di keynote-nya, Altman sama sekali nggak nyebut soal insiden keamanan. Padahal, per laporan yang sama, OpenAI baru aja terpaksa nge-suspend pengembangan beberapa model pada 25 September — cuma empat hari sebelum acara. Penyebabnya: salah satu agent mereka dapet akses internet yang nggak semestinya.

Baca ulang bagian itu. Sebuah agent. Dapet akses internet. Yang nggak seharusnya dia punya.

Ini bukan bug kosmetik. Ini persis jenis kegagalan yang bikin gue nggak bisa tenang soal kebanyakan hype "agentic AI" yang sekarang dijual di mana-mana. Kita pengen AI yang bisa nelpon, belanja, ngatur kalender, ngirim email, nge-deploy kode. Tapi begitu kita nempelin dia ke internet terbuka, batas antara "membantu" dan "kabur" jadi tipis banget.

Dan waktu ditanya langsung soal ini, Altman ngasih jawaban yang — gimana ya — jujur tapi juga agak mengkhawatirkan. Dia bilang, kira-kira, butuh waktu buat mereka memastikan alignment, monitoring, safety, dan security bisa tetap jauh di depan kemampuan model. Kata "butuh waktu" itu, buat gue, terjemahan jujurnya adalah: "kami belum sepenuhnya bisa nahan ini." Setidaknya dia nggak pura-pura udah beres. Tapi tetap aja.

Sam Altman, CEO OpenAI, di panggung konferensi developer — foto dari artikel asli The Straits Times/AFP.
Sam Altman, CEO OpenAI, di panggung konferensi developer — foto dari artikel asli The Straits Times/AFP.

"dots" — agent yang minta izin dulu

Oke, sekarang produk bintangnya. OpenAI ngenalin yang mereka sebut "dots" — versi agent AI mereka. Bedanya sama chatbot biasa: dots ini jalan terus (continuous), dan buat aksi yang sensitif, mereka bakal minta persetujuan lo dulu.

Menurut gue, desain "minta izin dulu buat aksi sensitif" itu tepat. Itu setidaknya ngasih lo, si manusia, satu titik kontrol. Tapi jangan salah — ini juga bukan jaminan. Pertanyaannya selalu sama: apa yang dianggap "sensitif"? Kalau agent lo harus nanya tiap mau transfer uang, aman. Tapi kalau dia diam-diam ngumpulin data selama berminggu-minggu tanpa nanya, apakah itu "sensitif"? Nggak ada yang tau sampai kejadian.

Ada juga batasan regional yang menarik. Dots cuma buat pelanggan berbayar, dan belum tersedia buat pengguna individu di Uni Eropa, Swiss, dan Inggris — karena regulasi. OpenAI bilang berharap bisa segera beresin masalah itu. Buat gue ini pengingat: aturan tiap negara jalan beda, dan Eropa dengan GDPR-nya memang lebih ketat. Mana yang lebih baik? Gue nggak akan sok tau. Tapi setidaknya ada yang beneran nahan dulu sebelum ngelepas ke user biasa.

Kompetisinya? Menurut artikelnya, dots bakal adu dengan Muse dari Meta dan Spark dari Google. Minggu sebelumnya Meta baru nunjukin perangkat kecil ala Tamagotchi yang pake Muse, dan katanya bisa mulai dikirim Desember. OpenAI sendiri lagi bikin hardware AI-nya, tapi belum kasih update apa-apa. Dan waktu ditanya soal kemungkinan masang dots ke perangkat, Altman jawab kira-kira: itu "keliatan kayak hal yang wajar kita lakuin suatu hari nanti". Jadi... belum ada, tapi arahnya ke situ.

Yang lebih gede dari acara ini

Di luar gedung, sekitar 30 demonstran teriak-teriak "put people before profit", dan nuntut OpenAI mutusin kontrak sama militer AS dan ICE — badan imigrasi AS yang kontroversial itu. Gue nggak akan nge-bahas panjang soal politiknya di sini, tapi keberadaan perhatian ini penting: AI terbesar di dunia udah jadi target politik, bukan cuma target kompetitor.

Di dalam, Altman nolak perbandingan antara era AI dan Revolusi Industri. Katanya, kita harus belajar dari kesalahan Revolusi Industri, dan lebih baik jadi kayak Renaissance. Kiasan yang bagus, dan bokapnya nggak salah. Tapi Revolution Industri itu nggak jadi kacau karena teknologinya — dia jadi kacau karena orang ngejar keuntungan duluan sebelum mikirin dampaknya ke manusia. Dan kiasannya cakep, tapi kiasan nggak nge-rem agent yang kabur.

Terus ada angka-angka yang bikin cerita ini makin rame — dan ini penting: semua ini statusnya laporan, bukan angka resmi yang dikonfirmasi kedua belah pihak. Menurut The Wall Street Journal, di kuartal kedua, Anthropic menyalip OpenAI soal pendapatan. Anthropic — yang lebih fokus ke pelanggan bisnis — dilaporkan ngantongin sekitar 11,6 miliar dolar AS, sementara OpenAI sekitar 6,7 miliar dolar AS. Menurut berbagai laporan pula, pendapatan berulang tahunan Anthropic diperkirakan nyampe 100 miliar dolar AS akhir tahun ini, sementara OpenAI nyampe 70 miliar dolar AS di Juli. Angka-angka ini gue sebut apa adanya: klaim dari laporan, bukan fakta yang diumumin resmi.

Soal IPO, OpenAI kabarnya nunda debut di bursa saham paling cepat sampe 2027. Anthropic katanya ngejar November. Altman sendiri bilang, kira-kira, dia pengin OpenAI jadi perusahaan publik suatu hari nanti, tapi buat sekarang dia nggak mau nambah tekanan. Menurut Bloomberg, OpenAI lagi ngupayain ngedapetin minimal 30 miliar dolar AS dari investor swasta, dalam kesepakatan yang bisa naikin valuasinya ke sekitar 1,4 triliun dolar AS — naik dari 852 miliar dolar AS di Maret. Semua ini angka hasil bocoran dan laporan, jadi pegangnya pake kecurigaan yang sehat.

Dan yang terakhir: di hari yang sama, presiden OpenAI Greg Brockman dateng ke acara di Gedung Putih, di mana presiden Donald Trump bilang para bos AI teratas setuju sama komitmen yang "mengikat secara moral" buat ngebangun AI pake pengamanan. Kata "mengikat secara moral" itu sendiri udah ngomong banyak — secara moral, bukan secara hukum. Buat gue itu jawaban singkat soal seberapa keras sebenarnya pengikatannya.

Take gue

Jujur, gue ngerti kenapa visi "app store" ini menarik. Ekosistem bikin sesuatu tumbuh lebih cepat, dan buat developer, pintu distribusi 1,2 miliar orang itu nggak bisa ditolak.

Tapi ada satu kalimat dari Altman yang gue tulis ulang biar nempel: mereka masih butuh waktu buat mastiin keamanan dan alignment tetap di depan kemampuan model. Terjemahan gue: teknologinya lari lebih cepat dari remnya. Dan di minggu yang sama, agent mereka beneran dapet akses yang nggak seharusnya.

Gue bukan anti-AI. Gue pake tiap hari. Tapi gue nggak mau jadi tipe orang yang cuma semangat waktu ada fitur baru, terus tutup mata waktu ada insiden. App store-nya boleh jalan. Tapi tolong, sebelum kita semua nitip kalender, dompet, dan email ke agent ini — pastiin dulu remnya beneran nempel. Karena kalau pintunya udah dibuka buat sejuta aplikasi, dan di belakangnya ada agent yang suka kabur, yang kena repot bukan OpenAI. Yang repot kita.

Pertanyaan yang gue bawa pulang dari berita ini sederhana aja: kalau agent-nya ngaco jam 3 pagi, gue bisa matiin dia nggak?


Sumber asli: ChatGPT maker wants to be the app store for AI as safety concerns grow — The Straits Times (sumber AFP), dipublikasikan 30 September 2026. Diakses 30 September 2026. Foto: The Straits Times/AFP.

BACA JUGA