Core PCE Agustus 3,0 Persen, Lebih Ringan dari Ekspektasi Tapi Fed Tetap Waspada
Inflasi PCE Agustus Lebih Ringan, Tapi Jangan Senang Dulu
Kalau lo ngikutin pasar keuangan Amerika Serikat belakangan ini, lo pasti tahu kalau semua mata lagi tertuju ke satu angka: Personal Consumption Expenditures alias PCE. Ini bukan sembarang angka, karena PCE adalah alat ukur inflasi favorit Federal Reserve. Rabu lalu, Departemen Perdagangan AS merilis datanya untuk bulan Agustus, dan hasilnya bikin sebagian orang agak lega.
Gini ceritanya: indeks harga PCE naik 0,3 persen secara bulanan. Kalau dihitung setahun penuh, kenaikannya jadi 3,4 persen. Sebelumnya, para ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan angkanya bakal 0,3 persen untuk bulanan dan 3,7 persen untuk tahunan. Jadi ya, angka headline-nya memang lebih adem dari yang dibayangkan pasar.
Tapi yang paling disorot bukan angka headline-nya. Melainkan core PCE, alias PCE inti — angka yang sudah dikurangi harga makanan dan energi. Angka ini cuma naik 0,2 persen bulan ke bulan, dan kalau disetahunkan mentok di 3,0 persen. Ekspektasinya? 0,3 persen bulanan dan 3,3 persen tahunan. Lagi-lagi, hasilnya lebih ringan dari dugaan.

Federal Reserve memang secara resmi lebih sering ngeliat angka PCE headline. Tapi para pejabatnya lebih percaya core PCE buat baca tren jangka panjang, karena angkanya nggak gampang goyang gara-gara harga bensin atau pangan. Jadi ketika core-nya melandai, itu sinyal yang cukup berarti buat arah kebijakan bunga.
Ada Satu Hal yang Bikin Angka Ini Sedikit Curang
Eits, jangan langsung euforia. Ada catatan penting yang bikin angka Agustus ini agak beda dari biasanya.
Bureau of Economic Analysis (BEA) ternyata mengubah cara mereka ngitung beberapa komponen indeks. Bukan cuma soal gimana caranya ngukur harga jasa hukum, software, dan aksesori komputer, tapi juga portofolio manajemen. Perubahan metodologi ini lumayan berdampak: level core PCE bulan Juli direvisi turun sampai 0,36 poin persentase.
Artinya, sebagian dari kabar baik ini asalnya dari perubahan cara ngitung, bukan murni karena harga-harga di lapangan melandai. Pasar tetap heboh dengan nomor barunya, tapi lo perlu ingat detail ini biar nggak salah baca.
Meski begitu, pasar langsung bereaksi. Futures saham AS naik setelah data dirilis, sementara yield Treasury bergerak negatif. Yang lebih menarik: peluang Fed buat naikkan bunga lagi di Oktober jadi menyusut, dan ekspektasi kenaikan berikutnya mundur ke Desember.
"Ini kabar baik buat investor yang khawatir soal lonjakan yield obligasi, dan ini memperkuat alasan untuk nggak menaikkan bunga di Oktober," kata David Russell, global head of market strategy di TradeStation. Dia menambahkan, "Tapi ini juga data yang relatif lama, nggak nge-refleksi lonjakan harga solar bulan ini."
Konsumen Masih Pegang Uang, Tapi Juga Tetap Belanja
Selain soal harga, laporan yang sama juga kasih gambaran soal kantong orang Amerika. Personal income naik 0,2 persen, sementara belanja mereka tumbuh 0,9 persen. Bandingkan sama ekspektasi pasar yang memperkirakan income naik 0,4 persen dan spending 0,8 persen. Jadi income-nya sedikit lebih lemah dari dugaan, tapi belanja justru lebih ngegas.
Kalau lo tanya apa biang kerok kenaikan harga Agustus, jawabannya: energi. Harga bensin melonjak 4,4 persen, jasa transportasi naik 1,4 persen, dan harga barang serta jasa energi secara keseluruhan naik 2,3 persen. Sementara itu, harga barang dan jasa secara umum masing-masing naik 0,3 persen.
"Data inflasi PCE — favorit Federal Reserve — nunjukin nggak ada kemajuan soal inflasi di Agustus," kata Heather Long, chief economist di Navy Federal Credit Union. "Dan hampir pasti September bakal lebih tinggi. Sementara konsumen Amerika lagi tercekik."
Komentar Long ini penting. Dia nggak melihat angka Agustus yang lebih rendah dari ekspektasi itu sebagai kemenangan. Buat dia, inflasi masih jelas belum mau turun.
Senada dengan itu, Sonu Varghese, global macro strategist di Carson Group, bilang, "Bahkan setelah revisi metodologi besar, inflasi PCE masih panas dengan cara apa pun lo lihat. Ekonomi lagi panas, kebijakan masih longgar, dan tantangan Fed adalah mencari tahu seberapa banyak pengetatan yang dibutuhkan. Itu jadi pendorong buat saham menuju kuartal keempat."
Pertumbuhan Ekonomi Justru Direvisi Naik
Di hari yang sama, Departemen Perdagangan juga ngasih kabar soal pertumbuhan ekonomi. Gross domestic product (GDP) AS tumbuh 2,2 persen secara tahunan di kuartal kedua, berdasarkan estimasi final dari tiga versi. Angka ini naik jauh dari estimasi sebelumnya yang cuma 1,5 persen, karena kontribusi belanja konsumen, belanja pemerintah, dan investasi yang lebih besar.
Satu metrik lagi yang diperhatiin Fed adalah real final sales to private domestic purchasers — ukuran permintaan mendasar dalam ekonomi. Angka ini naik 4,6 persen, revisi naik 0,4 poin persentase.
Bahkan ukuran inflasi periode April sampai Juni juga direvisi turun: PCE headline naik 5 persen dan core di 3,3 persen, masing-masing 0,3 poin persentase lebih rendah dari estimasi sebelumnya.
Poin penting yang perlu lo garis bawahi: core PCE di 3,0 persen dan headline di 3,4 persen itu masih jauh di atas target Federal Reserve yang cuma 2 persen. Jadi walau angkanya lebih ringan dari ekspektasi, ini bukan inflasi yang sudah jinak.
Fed di Persimpangan Jalan
Buat Federal Reserve, semua sinyal ini bikin posisi mereka serba salah.
Pejabat Fed biasanya bisa mengabaikan lonjakan harga yang dipicu faktor dari luar, misalnya tarif atau guncangan pasokan akibat perang dengan Iran. Tapi kali ini kenaikan harga bertahan lama, dan ada faktor baru yang belum jelas arahnya: ledakan kecerdasan buatan alias AI. Kombinasi ini bikin cara berpikir lama soal kebijakan bunga jadi rumit.
Pasar awalnya yakin Fed bakal lanjut naikkan bunga 0,25 persen lagi di Oktober, setelah kenaikan di September. Tapi komentar pada Selasa dari Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengubah perhitungan itu — dan data hari Rabu makin mendinginkan peluang kenaikan Oktober.
"Dengan aksi kebijakan yang kami ambil di rapat September, nggak ada kebutuhan untuk buru-buru, dan kami punya waktu buat ngumpulin informasi lebih banyak," kata Williams dalam pidatonya. Komentarnya hampir langsung mengubah ekspektasi pasar.
Williams tetap berpendapat kenaikan bunga lagi "mungkin pantas" akhir tahun ini. Pasar pun menggeser ekspektasi kenaikan berikutnya ke rapat Desember. Sisa rapat tahun ini cuma Oktober dan Desember.
Jadi, Apa yang Perlu Lo Perhatiin?
Kalau lo ngikutin pasar, sederhananya gini: data terbaru bikin peluang kenaikan bunga Oktober turun, dan itu bikin investor agak senang. Tapi inflasi masih jauh di atas target 2 persen, konsumen masih tercekik harga, dan Fed sendiri bilang belum mau santai.
Jadi buat lo yang punya eksposur ke aset AS — entah saham, obligasi, atau sekadar ngeliatin nilai tukar — jangan buru-buru anggap ini sebagai akhir dari era bunga tinggi. Angka Agustus memang lebih ringan dari ekspektasi. Tapi seperti kata para ekonom di atas: ringan bukan berarti selesai.
Yang jelas, pertarungan berikutnya berlanjut menuju rapat Fed berikutnya, dan setiap data baru bakal ngasih arah. Simpan angka-angka ini: core PCE 3,0 persen, headline 3,4 persen, dan target Fed 2 persen. Dari situ lo bisa sendiri menilai seberapa jauh jalan yang masih harus ditempuh.