Nokia Pasang Taruhan pada dApps dan GPU Nvidia demi Daya Saing Open RAN 5G
Lo pernah denger istilah Open RAN? Singkatnya, itu cara membangun jaringan radio 5G pakai perangkat dan software dari banyak vendor, bukan dikunci sama satu pabrikan doang. Nah, di medan inilah Nokia lagi main strategi baru. Vendor asal Finlandia itu sekarang pasang taruhan gede buat jaga daya saingnya di 5G, dan dua senjata yang dipilihnya agak nggak biasa: dApps dan GPU Nvidia.
Gue rangkumin dari ET Telecom (kanal telecom Economic Times), yang nulis soal ini pada 30 September 2026, mengutip laporan Light Reading. Intinya, Nokia pengin bikin tawarannya lebih menarik buat operator-operator telekomunikasi global, sekaligus ngadepin tekanan dari Ericsson dan Samsung yang jadi rival beratnya di pasar perangkat jaringan.

Apa yang sebenarnya diumumkan Nokia
Ada beberapa hal yang dilempar Nokia sekaligus di sini, dan semuanya nyambung satu sama lain.
Pertama, Nokia embraced antarmuka open RAN baru bernama E3. Interface ini dirancang khusus buat dApps yang beroperasi di user-plane dengan latensi sub-millisecond atau di bawah satu milidetik. Jadi bukan cuma di lapisan kontrol yang santai, tapi langsung nyentuh jalur data tempat paket-paket lo lewat.
Kedua, visi jangka panjangnya soal Radio Access Network (RAN): Nokia bayangin masa depan di mana GPU Nvidia jadi pengganti general-purpose buat silicon custom. Menariknya, silicon custom terbaru Nokia justru dikembangkan bareng Marvell Technology, tapi perusahaan tetap ngelihat chip Nvidia bakal jadi alternatif utama di kemudian hari.
Ketiga, strategi ini jadi pondasi buat penawaran AI-RAN Nokia yang bakal datang. CEO Nokia, Justin Hotard, ngklaim sudah ada 19 operator yang ikut program "initial deployments" alias penyebaran awal.
Terakhir, ada beberapa startup yang udah mulai bikin software RAN buat jaringan bikinan Nokia, yaitu Pulsone (Cohere Technologies), DeepSig, dan ZaiNar.
Kenapa Open RAN itu penting, dan apa masalah kompetitifnya
Biar konteksnya kebayang, Open RAN itu intinya "buka kotak" jaringan radio. Dulu, kalau lo pasang perangkat RAN dari satu vendor, ya semua komponennya harus satu merek. Mau ganti salah satu bagian? Susah, mahal, dan bikin ribet. Open RAN membalik logika itu: antarmuka dibuat terbuka alias compliant O-RAN, jadi operator bisa campur perangkat dan software dari vendor berbeda-beda.
Masalahnya, janji manis Open RAN nggak selalu gampang dieksekusi. Ini yang jadi medan pertarungan filosofi antar vendor. Ericsson dan Samsung, dua rival utama Nokia, memilih pendekatan yang lebih hati-hati. Nokia justru melangkah lebih berani, terutama di sisi network applications alias aplikasi jaringan.
Biar jelas, selama ini ada beberapa jenis "app" di ekosistem RAN modern, dan bedanya penting banget buat ngerti langkah Nokia:
| Jenis app | Butuh controller apa | Interface | Sifat tugas |
|---|---|---|---|
| xApps | near-real-time RIC | E2 | butuh latensi rendah, tapi nggak yang paling ekstrem |
| rApps | non-real-time RIC | (non-RT) | tugas otomasi, nggak butuh kecepatan milidetik |
| dApps | real-time RIC | E3 | tugas berat, eksekusi super cepat di user-plane |
Nah, Nokia justru menekuni jalur dApps yang paling baru dan paling ngejreng.
Jadi, apa itu dApps versi Nokia
Penting digarisbawahi: dApps di sini bukan "dApp" blockchain atau aplikasi terdesentralisasi ala kripto. Dalam konteks Nokia, dApp (distributed app) adalah generasi baru aplikasi jaringan yang dirancang buat tugas-tugas yang menuntut eksekusi lebih cepat dan butuh real-time RIC, dengan memanfaatkan interface E3 yang sekarang didukung Nokia.
Sementara xApps yang lama, yang butuh near-real-time RIC dan interface E2, minatnya justru menurun. dApps muncul sebagai jawaban buat kebutuhan yang nggak bisa dipenuhi cara lama. Bedanya, dApps ini ngelangkah masuk ke domain user-plane — bukan cuma ngatur-ngatur di lapisan kontrol, tapi ikut nentuin bagaimana data sebenarnya mengalir.
Peran GPU Nvidia
Di sinilah Nvidia masuk. Selama bertahun-tahun, perangkat RAN andelin silicon custom yang dirancang khusus buat tugas radio. Nokia pengin menggeser itu ke arah GPU Nvidia yang sifatnya general-purpose — hardware yang fleksibel, bisa dipakai buat macam-macam beban kerja, termasuk model AI.
Nvidia juga punya framework bernama Aerial yang jadi fondasi buat software stack Nokia. Dan di sini ada catatan penting: semua ini erat kaitannya sama platform software CUDA milik Nvidia. Justru di titik itu muncul pertanyaan soal portabilitas — seberapa gampang aplikasi dipindah-pindah antar vendor, apalagi Ericsson dan Samsung sama-sama nggak agresif mengejar strategi RAN berbasis GPU.
Kata pejabat Nokia dan contoh nyata dari Cohere
Ada dua kutipan penting yang perlu lo simak. Yang pertama dari Pallavi Mahajan, chief technology officer Nokia, soal peran GPU Nvidia dan framework Aerial dalam pengujian model:
"It provides a base for our teams and Nvidia to go out and test some of the models."
Lalu Mahajan juga menjelaskan filosofi besar di balik langkah ini:
"We've taken the whole concept of APIs and decoupling layers in a very serious fashion, and what it now enables us to do is bring in an O-RAN-compliant E3 interface."
Menurut laporan tersebut, pendekatan itu membuka dukungan buat sensing, pemantauan lokasi yang presisi (geo-precise location monitoring), dan efisiensi spektrum yang lebih baik.
Contoh paling konkret datang dari Cohere Technologies. Startup yang disebut Hotard itu bikin dApp buat produk Universal Spectrum Multiplier (USM), yang sebelumnya jalan sebagai xApp. Lewat interface E3, dApp ini masuk ke domain user-plane dan bisa memengaruhi scheduling, precoding, dan channel estimation dengan latensi sub-millisecond.
Beberapa operator besar udah publik menyatakan dukungan buat teknologi USM-nya Cohere setelah uji coba lapangan, dan bahkan ikut menanam investasi di startup itu. Siapa saja? Vodafone, Telstra (Australia), dan Bell Canada. Uji coba Bell Canada dilaporkan pakai Nokia sebagai partner vendornya.
Kenapa Ericsson dan Samsung menolak
Kontrasnya tajam. Kalau Nokia memeluk dApps, Ericsson dan Samsung justru menahan diri. Keduanya lebih mendukung rApps, yang duduk di non-real-time RIC buat tugas-tugas yang nggak butuh kecepatan milidetik rendah.
Ericsson bilang dalam pernyataan lewat email ke publikasi tersebut:
"We view dApps as an emerging concept, not a replacement for rApps."
Sambungnya:
"rApps remain our established approach for automation use cases within our architecture."
Soal xApps dan dApps, Ericsson menegaskan:
"For xApps and dApps, we continue to monitor and research, but there is no product commitment to support dApps today."
Jadi posisinya jelas: Nokia berlari ke depan, sementara dua kompetitor utamanya masih menunggu sambil ngamati.
Apa artinya buat operator dan pasar Indonesia
Buat operator di Indonesia, cerita ini bukan sekadar drama antar vendor. Langkah Nokia ini nunjukin arah industri: jaringan 5G ke depannya bakal makin pintar, makin diatur software, dan makin banyak main AI. Kalau dApps jadi standar, operator punya opsi lebih banyak buat mengoptimalkan spektrum — yang di Indonesia itu sumber daya mahal dan terbatas.
Bayangin saja, teknologi kayak USM bisa bantu operator mendorong lebih banyak kapasitas dari spektrum yang udah mereka punya, tanpa harus beli frekuensi baru. Buat pasar kayak Indonesia yang spektrumnya padat dan mahal, itu terdengar menarik banget.
Tapi ada catatannya. Open RAN yang bener tetap kompleks, dan ketergantungan pada CUDA Nvidia bikin operator harus mikir soal vendor lock-in versi baru. Kalau semua aplikasi cuma jalan mulus di stack Nvidia, pertanyaan lama soal keterbukaan Open RAN balik lagi: seberapa terbuka sih sebenarnya "terbuka" itu?
Opini gue
Gue suka sama langkah berani Nokia ini. Di tengah pasar yang sering terjebak "vendor A versus vendor B", Nokia justru pasang taruhan pada lapisan software dan AI yang bikin jaringan lebih luwes. Tapi gue juga nggak mau terlalu euforia. Istilah "Open RAN" yang notabene janjinya membebaskan operator dari ketergantungan vendor, kok malah melahirkan ketergantungan baru: harus ada GPU Nvidia, harus ada CUDA.
Kalau gue jadi operator, gue bakal nanya satu hal dulu sebelum ikut "initial deployments": seberapa gampang gue pindah kalau satu saat gue nggak mau lagi pakai stack Nvidia? Selama jawabannya belum jelas, janji Open RAN itu masih setengah matang. Yang jelas, pertarungan Nokia melawan Ericsson dan Samsung sekarang bukan cuma soal hardware — ini soal siapa yang ngatur lapisan aplikasi di atas 5G.
Sumber
- ET Telecom (Economic Times) — "Nokia bets on dApps, Nvidia GPUs for 5G Open RAN competitiveness", 30 September 2026. https://telecom.economictimes.indiatimes.com/news/telecom-equipment/nokia-bets-on-dapps-nvidia-gpus-for-5g-open-ran-competitiveness/134578088 (diakses 30 September 2026)
- Artikel sumber mengutip laporan Light Reading.