‹ kembali ke daftar#13 / 64
NEWS 30/SEP/2026

Warga Asing di Jepang Mulai Bertanya: Bertahan atau Pulang?

Jepang lama menawarkan gaji lebih rendah dan budaya kerja keras sebagai tukar rasa aman serta biaya hidup yang masuk akal. Buat banyak orang asing, hitungan itu kini mulai runtuh.

Kesepakatan Lama yang Selama Ini Bikin Betah

Kalau lo pernah kerja di Jepang sebagai orang asing, kayaknya lo tahu banget "paket" yang ditawarkan negara ini. Japan Times menyebutnya sebagai pertukaran yang sudah lama akrab: gaji lebih rendah dan budaya kerja yang menuntut, ditukar dengan rasa aman, ketertiban publik, dan biaya hidup yang relatif masuk akal dibanding negara-negara kaya lain.

Belum lagi transportasi kelas dunia dan makanan yang luar biasa. Kombinasi itu bikin, buat sebagian besar orang, sisi untungnya lebih besar daripada sisi ruginya. Makanya banyak yang bertahan bertahun-tahun meski tahu gajinya kalah jauh dibanding teman-teman mereka di negara lain.

Tapi laporan Japan Times kali ini bikin gue agak mengernyit. Menurut mereka, hitungan itu sekarang mulai runtuh. Dan kalau lo salah satu orang asing yang sedang menimbang-nimbang masa depan di Jepang, ini momen yang pas buat ikut menghitung ulang.

Shikhambri Chhabra dan suaminya membesarkan dua putra mereka, satu lahir di India dan satu di Jepang, di rumah mereka di Osaka (kredit: japantimes.co.jp)
Shikhambri Chhabra dan suaminya membesarkan dua putra mereka, satu lahir di India dan satu di Jepang, di rumah mereka di Osaka (kredit: japantimes.co.jp)

Cerita Keluarga Chhabra di Osaka

Japan Times membuka ceritanya dengan Shikhambri Chhabra. Dia dan suaminya sedang membesarkan dua putra, satu lahir di India dan satu lahir di Jepang, di rumah mereka di Osaka. Yang bikin gue ngena: mereka mengaku nggak punya rencana untuk mencabut keluarga mereka dari Jepang.

Jadi di tengah kabar soal hitungan yang mulai berubah, masih ada keluarga yang memilih tetap tinggal. Ini pengingat penting menurut gue. "Orang asing di Jepang" bukan satu blok yang kompak dengan satu sikap. Ada yang mulai ragu, ada yang justru makin mantap.

Pertanyaannya, apa yang bikin hitungan itu berubah? Japan Times menaruh lanjutan analisisnya di balik paywall, tapi dari kerangka yang mereka bangun, gue bisa nebak arah diskusinya: beban hidup, prospek karier, dan rasa "diterima" jadi tiga hal yang paling sering ditimbang.

Kenapa "Rasa Aman" Nggak Lagi Cukup

Buat gue pribadi, ketertiban dan rasa aman itu betul-betul nilai plus Jepang. Lo bisa jalan tengah malam tanpa was-was, kereta jarang telat, dan birokrasinya rapi. Tapi rasa aman itu juga nggak bisa dipakai buat bayar sewa, apalagi buat menutup selisih gaji yang terus melebar.

Anak muda asing yang datang dengan skill tinggi biasanya mulai sadar: kalau tujuannya mengumpulkan tabungan atau naik jenjang karier secepat mungkin, Jepang nggak selalu jadi pilihan paling efisien. Apalagi kalau mereka bisa kerja remote dan tinggal di tempat dengan biaya hidup lebih ramah.

Kedua, soal budaya kerja. Budaya yang menuntut itu dulu "harga" yang diterima karena kompensasi lain dianggap sepadan. Tapi begitu tuntutan itu terasa nggak lagi dibayar pantas, wajar kalau orang mulai bertanya.

Ketiga, soal rasa diterima. Ini yang paling susah diukur. Status visa, bahasa, sampai dinamika kantor bisa bikin orang asing merasa selalu jadi tamu, bukan warga. Perasaan itu lama-lama bikin lelah.

Sinyal yang Sebaiknya Lo Perhatikan

Kalau gue jadi orang asing yang lagi menimbang bertahan atau pulang, ada beberapa hal yang bakal gue cek. Pertama, seberapa besar pendapatan gue naik dibanding kenaikan biaya hidup. Kedua, seberapa jelas jalur jangka panjang gue di sini, baik dari sisi karier maupun status tinggal. Ketiga, seberapa kuat jaringan sosial gue di luar kantor.

Tiga hal itu nggak ada di laporan Japan Times secara rinci, jadi anggap saja ini catatan pribadi gue. Tapi pola "hitungan yang runtuh" yang mereka sebut memang masuk akal kalau dilihat dari tiga variabel itu.

Gue juga bakal lihat apakah perusahaan tempat gue kerja punya jalur promosi yang jelas buat orang asing, dan seberapa fleksibel mereka soal kerja remote atau jam kerja. Kadang hal kecil begini yang diam-diam jadi penentu, jauh sebelum gaji masuk hitungan.

Bertahan atau Pulang, Nggak Ada Jawaban Tunggal

Yang menarik, Japan Times nggak menggambarkan ini sebagai eksodus besar-besaran. Mereka menyebut perhitungan yang berubah, bukan keputusan yang seragam. Chhabra dan keluarganya jadi bukti kalau bertahan tetap jadi pilihan yang sah, terutama kalau akar sosial dan kenyamanan hidup sudah terbentuk.

Sebaliknya, keputusan pulang juga bukan berarti gagal. Buat sebagian orang, Jepang cuma jadi satu bab, bukan seluruh bukunya. Yang penting, keputusannya diambil sadar, bukan karena terpaksa atau sekadar ikut arus.

Buat Lo yang Lagi Menghitung

Kalau lo sedang menimbang, gue saranin jangan ambil keputusan cuma dari perbandingan gaji mentah. Hitung juga hal-hal yang nggak kelihatan di slip: waktu istirahat, jarak ke keluarga, kesehatan mental, dan peluang tumbuh.

Dan satu lagi, jangan panik kalau mendengar kabar "hitungan mulai runtuh". Justru momen begini bagus buat mengevaluasi ulang apa yang sebenarnya lo cari dari hidup di Jepang. Kalau ternyata alasan lo bertahan belum berubah, ya lanjut. Kalau ternyata sudah berubah, mungkin saatnya mempertimbangkan opsi lain dengan kepala dingin.

Menurut gue, berita ini bukan kabar buruk atau kabar baik. Ini cuma pengingat bahwa "paket" yang dulu otomatis diterima sekarang wajib dicek ulang dari waktu ke waktu. Dan itu sehat, baik buat pekerja asing maupun untuk Jepang sendiri.

BACA JUGA