Kuota Tokutei Ginou 1 untuk sektor gaishoku (restoran dan layanan makanan) resmi dihentikan mulai 13 April 2026 karena pemerintah menilai jumlah pekerja asing sektor ini hampir mencapai plafon 50.000 orang (MOJ, MAFF). Penutupan ini hanya menghentikan permohonan baru; tenaga kerja yang sudah berada di Jepang tetap bisa bekerja selama syarat dipenuhi.
Masih ada jalan keluar. Berikut solusi praktis buat operator restoran yang sebelumnya bergantung pada Tokutei Ginou:
1. Maksimalkan tenaga yang sudah ikut program Tokutei
- Transisi internal: MOJ memastikan perubahan kerja (transfer antar perusahaan restoran) tetap diproses, selama total jumlah Tokutei Ginou di sektor masih belum melampaui plafon. Prioritaskan perpindahan dari bisnis lain (delivery, hotel) ke restoran yang sedang butuh tenaga.
- Perpanjangan & upgrade: Pemegang visa Tokutei Ginou 1 yang sudah di Jepang bisa mengajukan perpanjangan biasa. Jika mereka memenuhi syarat (misal, hasil ujian 2号), pertimbangkan jalur upgrade ke Tokutei Ginou 2 dengan pendampingan, karena kuota 2号 tidak dibatasi sama ketatnya.
- Pelatihan cross-skill: Pastikan mereka terlibat dalam pelatihan layanan tambahan (multi-task), sehingga peralihan antar outlet/shift tidak menemui kendala administratif.
2. Substitusi dengan jalur visa lain
Penutupan kuota berarti perusahaan harus menyiapkan plan B untuk kebutuhan tenaga kerja baru. Berikut jalur visa alternatif yang bisa dijajaki:
- Technical Intern Training (Gino Rishuu). Pilihan ini cocok bila restoran punya mitra pelatihan dan bersedia mendampingi peserta selama masa pembinaan 3 tahun (atau lanjut menjadi 5 tahun jika beralih ke Tokutei). Dibutuhkan kontrak dengan organisasi pelatihan dan program terstruktur, jadi ideal untuk operasi berskala menengah atau franchise yang bisa menyediakan pelatihan standar.
- Engineer/Specialist in Humanities (Tek-sen). Cocok untuk posisi yang lebih ke arah manajemen, digital, atau R&D—misalnya sistem kasir/automasi, manajemen rantai pasok, atau perancangan menu baru. Meski visa ini ditujukan untuk akademisi atau profesional, restoran bisa memanfaatkannya untuk mengisi posisi pendukung administratif atau teknologi makanan.
- Designated Activities untuk program pelatihan tertentu. Bila restoran bekerja sama dengan lembaga hospitality atau program pemerintah, jalur Designated Activities dapat dipakai untuk mempekerjakan peserta dalam durasi terbatas. Perlu ada sponsor resmi dan pendampingan dari kantor imigrasi, tapi fleksibilitasnya berguna untuk proyek jangka pendek.
- Visa dependents / working holiday. Lokasi dengan kunjungan wisata tinggi (seperti resor atau area pantai) bisa mempertimbangkan pekerja dengan visa dependent atau working holiday untuk menambal shift musiman. Tidak bisa jadi tulang punggung, tapi efektif untuk mengisi bagian front desk, delivery, atau event pop-up.
Catat bahwa MOJ memberi tolok ukur: bila restoran ingin mengalihkan pekerja dari Technical Intern ke Tokutei (atau sebaliknya), mereka dapat berkoordinasi dengan Food Industry Special Skills Council dan memastikan dokumen pendukung (seperti kontrak, laporan pelatihan) siap.
3. Cek peluang pasar luar Jepang
- Negara tetangga: Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura memiliki program kerja sementara (misalnya visa kerja jangka pendek atau trainee). Koordinasikan dengan agen lokal untuk merekrut pekerja yang siap ditempatkan sementara dan pulang saat proyek selesai.
- Program khusus JETRO / ASEAN: Beberapa asosiasi industri makanan menawarkan program exchange atau franchise yang memanfaatkan tenaga dari negara asal (misal, Indonesia, Filipina) di bawah kerja sama antar perusahaan.
- Outsourcing dan remote support: Untuk fungsi back-office, pertimbangkan tenaga kerja remote (seperti resep digital, marketing) berasal dari luar Jepang yang tidak perlu visa kerja Jepang.
Perlu diingat bahwa penempatan langsung di luar Jepang untuk restoran Jepang (konten digital, ghost kitchen) bisa jadi outlet baru sehingga bisa mempertahankan brand tanpa menambah jumlah pekerja Tokutei.
4. Perkuat tenaga lokal & adaptasi bisnis
- Rekrut lokal dengan insentif: Tawarkan bonus shift malam, perumahan, atau pelatihan sertifikasi barista/chef. Gunakan portofolio digital & campus hiring.
- Automasi & teknologi: Gunakan kios kasir self-order, sistem manajemen inventaris, atau robot delivery untuk mengurangi kebutuhan staf di dapur/front.
- Kampanye "Resto Jepang untuk Karier": Bangun narasi bahwa restoran menawarkan jenjang karier (trainer, menu developer) sehingga menarik pekerja domestik yang selama ini ragu masuk F&B.
- Manajemen jam kerja: Terapkan rotasi shift yang transparan agar tenaga lokal tak cepat burnout. Gunakan data kehadiran (time clock) untuk menyesuaikan shift demand (weekend/puncak).
5. Monitoring & komunikasi dengan pemerintah
- MOJ dan MAFF sudah menyediakan dokumen PDF dan hotline (MAFF-JTB 03-6744-2397) yang siap menjawab pertanyaan pengusaha. Simak FAQ yang akan diterbitkan menyusul pengumuman.
- Kapan pun situasi berubah (misal, kuota dibuka kembali kalau sektor lain mengosongkan slot), pengumuman resmi akan dimasukkan ke portal MOJ/MAFF. Subscribe newsletter atau pantau RSS.
Kesimpulan
Meski Tokutei Ginou restoran ditutup sementara, restoran bisa bertahan lewat kombinasi: menjaga pekerja yang ada, mengejar visa alternatif, melebarkan rekrutmen lokal, dan memanfaatkan program internasional. Pengumuman ini juga jadi kesempatan buat bisnis memperbaiki kondisi kerja dan produktivitas agar siap ketika kuota dibuka kembali. Kalaupun kamu butuh template komunikasi untuk karyawan atau calon pekerja asing, aku bisa bantu bikin.
Sumber: Pengumuman MOJ (27 Maret 2026) & MAFF (portal "外食業分野"), liputan Sankei/Asahi/OTAFF tentang penutupan dan penundaan ujian Tokutei Ginou gaishoku.